Menu Click to open Menus
Home » Indeks » Agenda » Butuh Referensi Sejarah

Butuh Referensi Sejarah

(317 Views) January 5, 2016 10:09 am | Published by | No comment
Ketua Legium Veteran Republik Indonesia Provinsi NTB, Brigjen (Purn.) H. Abdul Kadir, S.Ip

Ketua Legium Veteran Republik Indonesia Provinsi NTB, Brigjen (Purn.) H. Abdul Kadir, S.Ip

GENERASI saat ini dinilai tidak memiliki literatur dan referensi yang memadai untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan dalam menjaga NKRI. Dikhawatirkan, karakter dan jati diri kebangsaan generasi sekarang semakin luntur di tengah era globalisasi.

Hal itu diperlukan dalam memupuk rasa cinta tanah air untuk mengusir kebodohan dan kemiskinan yang melanda negeri ini. Bangsa Indonesia saat ini sedang menghadapi penjajahan dalam bentuk ideologi melalui hegemoni opini serta ekonomi melalui eksploitasi sumber daya alam.

Hal itu dikemukakan Ketua Legium Veteran Republik Indonesia Provinsi NTB, Brigjen (Purn.) H. Abdul Kadir, S.Ip seusai upacara peringatan Hari Pahlawan di halaman Kantor gubernur NTB, Selasa (10/11). Pemuda sekarang dinilai mendapatkan sumber sejarah yang tidak utuh sehingga belum memiliki pemahaman yang seimbang tentang keindonesiaan dan kepahlawanan.

Pemerintah diharapkan mampu membuat koridor dalam memberikan pemahaman tentang sejarah yang benar. Selama ini, kata veteran kelahiran Banyuwangi, 27 Mei 1940 ini, referensi literatur yang beredar banyak ditulis secara tendensius oleh berbagai pihak.

“Pemuda dan mahasiswa sebagai generasi penerus harus memiliki satu pedoman untuk memahami sejarah secara benar dan proporsional. Menteri Pendidikan harus mengupayakan buku wajib tentang sejarah yang disusun beberapa ahli sejarah sehingga tidak ada informasi yang simpang siur. Jika tidak, itu akan mengganggu persatuan dan kesatuan yang telah diperjuangkan sejak zaman sebelum merdeka dulu,” ungkap veteran yang pernah terjun bertugas pada Komando Trikora pembebasan Irian Barat tahun 1961 silam.

Bupati Lombok Timur antara 1989 sampai 1994 itu menambahkan, sikap-sikap kepahlawanan juga mulai terkikis terbukti dari merosotnya keikhlasan dalam upaya berbuat untuk negara. “Sifat utama pahlawan itu adalah memberi sumbangsih kepada negaranya. Memberikan suatu karya perjuangan dalam mewujudkan dengan banyak cara tidak harus melalui perjuangan fisik. Bukan sebaliknya, ” tegasnya.

Generasi muda, kata Abdul Kadir, harus memiliki sikap pantang menyerah. Dalam konteks kekinian, harus menghayati bagaimana perjuangan para pahlawan bangsa sehingga tidak mudah gentar dalam menghadapi ancaman, tantangan dan hambatan yang semakin sulit dikenali.

‘’Karena ancaman dan tantangan itu makin sulit dikenali di era globalisasi sekarang. Itu bentuk penjajahan baru, dulu kami berjuang mengusir penjajah melawan pasukan-pasukan Belanda dan Jepang. Dalam konteks kekinian, penjajah masuk melalui ideologi, masuk lewat sumber daya alam seperti pangan, energi, air dan kontrol pikiran melalui opini di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini. Yang tidak kuat akan terbawa arus,’’ ungkapnya.

Ia berharap, melalui literatur yang memadai, generasi pemuda mampu memperkuat karakter dan jati diri ke-Indonesia-annya sehingga perjuangan setelah kemerdekaan mampu terus ditingkatkan hingga generasi selanjutnya nanti tanpa kehilangan identitas dan sikap-sikap mulia pahlawan. (ist)

Categorised in: , , , , ,

No comment for Butuh Referensi Sejarah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *